Uniknya Kota Singkawang, Kalimantan Barat

Singkawang, keliru satu kota yg berada pada Kalimantan Barat ini ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki keistimewaan tersendiri. Keanekaragaman wargaTionghoa, Dayak & Melayu sampai kadang rakyat Singkawang di singkat menjadi CiDaYu.

Lantaran banyaknya jumlah wargaTionghoa pada kota ini sehingga tak jarang pula diklaim sebagai kota Amoy. Singkawang memiliki poly keunikan yang nir bisa kita temukan pada loka lain.

Setiap hari kelima belas pada kalender Cina dirayakan Cap Go Meh, yg adalah “malam kelima belas”. Rangkaian acara dimulai berdasarkan beberapa hari sebelum Cap Go Meh, dengan pawai lampion dan pemberkatan tatung pada vihara-vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau para yang kuasa. Mereka menjadi kebal, nir merasa sakit atau berdarah ketika badannya ditusuk besi tajam & disayat golok tajam.

Tujuan utama tatung adalah membersihkan kota menurut roh-roh dursila agar masyarakat diberkati sepanjang tahun. Inilah yg menjadi salahsatu daya tarik ramainya kota Singkawang pada awal tahun. Para Tatung digiring mengelilingi kota dan dilakukan pada pagi hari.

Pertunjukan ekstrem ini merupakan aktivitas tahunan wargaTionghoa di Singkawang.

2. Vihara & masjid tertua di Singkawang

Salah satu wujud tingginya tingkat toleransi beragama di kota Singkawang adalah adanya Vihara Tri Dharma Bumi Raya yg berseberangan dengan Masjid Raya, yang merupakan masjid terbesar di Kota Amoy itu.

Vihara yang terkenal dengan sebutan Pekong Toa ini sudah berusia hampir 200 tahun, Sampai sekarang vihara ini sebagai vihara primer di Singkawang. Semua tatung yg berparade di hari Cap Go Meh wajibdiberkati terlebih dahulu di sini agar mendapat kesaktian.

Sementara itu, bangunan orisinil Masjid Raya telah berdiridari tahun 1885, yg kemudian dibangun kembali dengan megah tahun 1936 setelah habis terbakar.

Jika dilihat dari sisi Vihara, terlihat seolah kedua tempat ibadah itu bersisian satu sama lain.

tiga. Kerukunan antarumat beragama

Kota Singkawang memiliki kerukunan antar umat beragama yg sangat tinggi. Penduduknya lebih banyak didominasi Melayu, Tionghoa, & Dayak. Masjid & vihara tertua yang bertetangga tersebut merupakan salahsatu contoh kerukunan tersebut.

Masyarakat yg meyaksikan pertunjukan Cap Go Meh pun nir hanya masyarakat Tionghoa, akan namun dari banyak sekali suku & kepercayaanlainnya juga turut menyaksikan. Begitu pula saat perayaan kepercayaanlain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yg nonmuslim pun ikut memeriahkan acara.

Kulturasi budaya dikota ini memanglah sangat kental, akan namun perasaan untuk saling menghormati satu sama lain permanen terjaga.

4. Perumahan tionghoa berusia 100 tahun

Di lebih kurang Pekong Toa masih ada sebuah daerah yang mampu dibilang masih cukup Tradisional. Lokasi tepatnya di Gang Mawar, pada samping Sungai Singkawang. Di tempat ini terdapat beberapa rumah Tionghoa yg berusia lebih dari seratus tahun, lengkap dengan ruang serbaguna & kelenteng minikhusus buat penghuni daerah.

Walaupun telah mengalami renovasi, contoh dan fungsi bangunannya masih dipertahankan seperti aslinya. Tidak sedikit para wisatawan yg berkunjung ke tempat ini.

Bagi orang tionghoa naga melambangkan kekuatan & keberuntungan, maka tidak heran jika poly patung naga di Kota Singkawang itu. salahsatunya merupakan patung naga ditengah kota, tepatnya di persimpangan Jalan Kempol Mahmud & Jalan Niaga. Uniknya, patung naga dibentuk menghadap cenderung ke atas, bukan ke samping misalnya umumnya.

Ini dikarenakan adanya kepercayaanbahwa toko yang berhadap-hadapan dengan naga akan bernasib naas sebagai akibatnya tidak terdapat pemilik toko yang mau bila patung naga dibuat menghadap tokonya. Karena dikelilingi toko pada segala penjuru, maka patung ini dibentuk menghadap cenderung ke atas, setidaknya badannya yg melilit menurut bawah ke atas. Jadi, semua mampu bisa keberuntungan (hoki).

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar