Sepotong Sejarah Dari Usul Orang Khek Di Singkawang

misterpangalayo.com - Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: 山口洋 hanyu pinyin: Shānkǒu Yáng) merupakan sebuah kota (kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak kurang lebih 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi sang pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang asal dari bahasa Hakka, San khew jong yg mengacu dalam sebuah kota pada bukit dekat bahari dan estuari.ASAL USUL SINGKAWANG

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian berdasarkan wilayah kesultanan Sambas,Desa Singkawang sebagai loka singgah para pedagang & penambang emasdari Monterado. Para penambang dan pedagang yg kebanyakan berasaldari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahuluberistirahat pada Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monteradoyang telah lamaacapkali beristirahat pada Singkawang buat melepaskepenatannya dan Singkawang juga menjadi loka transit pengangkutanhasil tambang emas (bubuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka),mereka berasumsi berdasarkan sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasanlangsung menggunakan laut Natuna dan terdapat pengunungan & sungai,dimana airnya mengalir berdasarkan pegunungan melalui sungai hingga ke muaralaut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai sang mereka yangcukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesiada yang sebagai petani dan pedagang di Singkawang yg dalam akhirnyapara penambang tersebut tinggal & menetap pada Singkawang.Tugu Naga - Singkawang

ASAL USUL KHEK SINGKAWANG

Asal usul komunitas Tionghoa pada Nusantara memiliki sejarah yg menarik. Mereka ternyata asal dari suku yang berbeda satu sama lain. Tidak hanya yang kita kenal yaitu `orang China' saja. Orang Tionghoa di Indonesia tiba menurut dua propinsi yaitu Fujian dan Guangdong. Kelompok terbesar yg ada pada Indonesia adalah Hokkian (Fujian) yang menurut sensus tahun 1930 berjumlah 550.000 jiwa. Mereka tersebar pada Jawa, Madura, Sumatera (kecuali Bengkalis), Indonesia bagian Timur & sedikit di Kalimantan Barat. Kelompok lainnya yaitu Hakka yg berasal menurut Barat Daya propinsi Fujian dan menurut sensus 1930 berjumlah 200.000 jiwa. Kelompok ini poly terdapat pada Kalimantan Barat.Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Diangkat menurut disertasi Harry Purwanto pada Universitas Indonesia buku Orang Cina Khek dari Singkawang ini membahas kehidupan kebudayaan kelompok Hakka (Ke Jia atau Khek) di Indonesia, khususnya pada Singkawang, Kalimantan Barat.

Salah satu hal yg menarik adalah kata `China' yang masih dipakai mereka. Orang-orang China Singkawang, Kalimantan Barat dan di Bangka selalu mengidentifikasikan dirinya menjadi orang Ch'in tanpa memiliki anggapan bahwa kata itu mengandung konotasi merendahkan atau menghina. Tidak sporadis pula mereka mengidentifikasikan diri menjadi orang Tong Nyin atau orang dari dinasti Tang (618-907 M) yg merupakan orang Manchu (laman 20).

Menurut pendapat ahli sejarah, istilah China diambil berdasarkan Dinasti Qin (baca: Chin) yg berkuasa pada 221-206 SM. Alasannya lantaran kaisar Qin yang pertama dianggap sebagai pemersatu negeri China. Begitupula menggunakan Orang Belanda, Inggris dan Italia yg menyebut negeri China dengan China. Sementara orang Rusia menyebut China menggunakan Kitai (China). Ada pendapat lain di daratan China yang mengatakan bahwa kata China diasosiasikan dengan kata Zhina, sebuah kata yang sengaja diciptakan sang orang Jepang untuk menghina orang China. Sedangkan orang Jawa jaman dahulu menyebut mereka menggunakan nama Tartar.

Hal menarik lainnya pada buku ini adalah penjelasan yang gamblang dan menyeluruh mengenai alasan mengapa orang `China' masih sulit diterima sepenuhnya oleh orang `Indonesia'. Penulis menghubungkan menggunakan orientasi sejumlah orang `China' yang masih sangat bertenaga dalam negeri leluhurnya dan pandangan merendahkan mereka terhadap suku-suku lain di Indonesia. Sikap inilah yg menghalangi mereka buat berasimilasi dengan wargasetempat (page 103).

Selain itu kita diberikan juga data sejarah dan lapangan mengenai persoalan `China' pada Indonesia, hasil ketekunan penulis selama 15 tahun. Antara lain; pembahasan mengenai perjanjian dwi kewarganegaraan pada zaman pemerintahan Soekarno (hal.68), awal hubungan antara orang `China' menggunakan penduduk orisinil Kalimantan Barat (hal.117), asal usul nama kota Singkawang yang berasal berdasarkan bahasa Hakka, San Kheu Yong (Shan= gunung, Kou= verbal sungai, & Yang= samudera ). Nama Singkawang ini rupanya ada dari penafsiran para perantau China di masa lampau (halaman 138).

Kelompok orang Khek ini ternyata selalu dipercaya "tamu" sang sesama orang China (baik di Fujian, Guangdong juga pada luar negeri). Pada abad ke-10, mereka pindah dari Henan ke Shantung kemudian dalam abad ke-13 pindah ke Fujian. Mereka didesak ke Barat oleh penduduk Fujian & Guangdong, ke wilayah perbukitan yang kurang fertile di perbatasan Fujian dan Guangdong. Pengalaman berpindah-pindah dan berjuang buat hayati pada kehidupan yang keras inilah yang menyebabkan konflik menggunakan grup lain. Mereka menjadi lebih ulet , gigih, keras waktu harus pindah lagi ke luar negerinya buat mencari kehidupan yang lebih baik. Di tempat baru, misalnya pada Kalimantan, adaptasi mereka ternyata cukup tinggi meskipun mereka dianggap kurang ramah.Tahun 1760 mereka datang pada jumlah yg akbar ke Kalimantan. Mula-mula mereka didatangkan & dipekerjakan di tambang emas sang Sultan Sambas sejak tahun1740-an. Sebelumnya, hanya orang Dayak & Melayu yg sebagai penambang tetapi ternyata output yg diperoleh sedikit. Sementara itu orang Khek lebih berpengalaman & unggul pada teknologi penambangan sehingga dapat menghasilkan emas lebih banyak. Orang Khek pada waktu itu jua mempunyai organisasi untuk mendatangkan buruh `China' berdasarkan daratan China & menguasai buruh sebagai akibatnya pertambangan dapat terus berlangsung.Lama kelamaan, lantaran alasan-alasan seperti ingin bagian yg lebih besardan tidak puas pada Sultan (mereka merasa diperas) maka mereka tidak menyerahkan emasnya kepada Sultan Sambas tetapi buat diri mereka sendiri & mendirikan kongsi. Kongsi merupakan organisasi yg mengurus kehidupan orang Khek termasuk mempunyai pasukan keamanan buat menjaga keselamatan masyarakat Khek.

Kongsi pertama menurut Victor Purcell dalam The Chinese in Southeast Asia adalah Lan-fang didirikan di Mandor oleh Lo-Fong-Phak yang berasal dari suku Hakka. Ia datang di Borneo dalam 1772 menggunakan 100 orang anggota famili. Pada awalnya mereka berkecimpung di bidang pertanian & nir ada hubungannya dengan pertambangan. Sementara itu 2 kongsi akbar lainnya adalah Ta-kang & San-t'iao-kou. Keberadaan kongsi-kongsi ini nir disukai pemerintah Hindia Belanda karena mereka menganggap misalnya `negara pada negara'. Alasannya terdapat beberapa kongsi besardan minimempunyai pasukan sendiri, seperti Lan-fang mempunyai 6000 prajurit, Ta-kang 10.000 prajurit & San-t'iao-kou 5000 prajurit.

Akhir abad ke-18, kongsi-kongsi ini nir lagi `mengakui' kekuasaan Sultan Sambas. Kemudian mereka memberontak dan berusaha mengambil alih usaha tambang emas tadi. Orang Khek pula pernah bersengketa dengan orang Dayak. Penyebabnya mungkin karena perkara tanah ketika orang Khe mulai membuka hutan buat ditanami lada & sayuran.

Kajian antropologis yg sebagai kajian utama buku ini tentunya merupakan bagian yang nir kalah menarik. Misalnya waktu mereka dipaksa pindah meninggalkan tempat tinggal& tanah mereka, peraturan pemerintah mengenai perimbangan antara siswa bumiputera dan murid Tionghoa yg menyebabkan poly anak Tionghoa terpaksa tidak sekolah, & pembahasan tentang kewajiban orang Tionghoa mengganti namanya menggunakan nama Indonesia. Padahal, nama bagi orang Tionghoa memiliki makna khusus & memperlihatkan ke'aku'an mereka. Sehingga muncullah nama-nama yang terdengar aneh pada indera pendengaran, contohnya terdapat seorang pria di Singkawang yang bernama Tjhin Sin Kie yg mengganti namanya sebagai Fatmawati (halaman 279).

Masih soal penggantian nama, ada pada antara mereka yang menggunakan nama Ngatijan. Sekilas nama ini mengingatkan dalam nama orang Jawa. Alasan menentukan nama ini karena ada pertimbangan buat permanen menyertakan nama she (marga) mereka ke pada nama Indonesia. Sebelum berganti nama, beliau bernama Ng Sjak Tshin (hal.335). Mereka justru nir menentukan nama Dayak tetapi cenderung memilih nama Jawa atau Melayu. Penulis mengaitkan alasan ini menggunakan perseteruan berdarah yg merupakan rangkaian peristiwa evakuasi tahun 1967 yg rupanya mengakibatkan `rasa permusuhan laten'.

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar