Sejarah Berdirinya Kota Singkawang Bagian I » Kabarkampung.net » Informasi Budaya

Kabarkampung.net, Pontianak – Singkawang dulunya bukan sebuah loka yg berpenduduk. Tercatat, baru pada abad ke-18 antara tahun 1720-1750 Kesultanan Sambas buat pertama kalinya mulai mendatangkan orang-orang Tionghoa ke daerahnya menggunakan tujuan membuka tambang emas.

Pegiat sosial budaya Kalimantan Barat, M Chandra menuturkan, datangnya orang-orang Tionghoa ke wilayah Sambas adalah awal mula kegiatan penduduk mulai tampak di wilayah Singkawang.

Dia jua mengulas mengenai hari jadi kota Singkawang, bahwa selama ini Kota Singkawang belum mempunyai hari jadi Kota Singkawang dengan sempurna sinkron informasi sejarah. Menurutnya perlu kajian atau analisa sejarah yg sahih, yg dalam akhirnya dapat menyimpulkan kapan sebenarnya Kota Singkawang ini pertama kali didirikan.

“Saya merasa bahwa ditetapkannya hari jadi kota Singkawang sesuai menggunakan ketika pelantikan Penetapan pemerintahan otonom Kota Singkawang adalah tidak tepat.” Kata M. Chandra. Rabu (27/10).

Menurutnya, sejarah pendirian Kota Singkawang tidak lepas dari berbagai peristiwa disana, hingga pada jumlah penduduknya yg besarhingga mempunyai peraturan dalam mengelola daerah tersebut. Dan bukan diadaptasi dengan pelantikan Pemerintahan Kota Singkawang dalam tanggal 17 Oktober 2001 oleh Pemerintah Pusat pada Jakarta.

Disini Chandra mencoba menyajikan liputan sejarah, beliau memaparkan aneka macam kejadian sampai tumbuhnya penduduk disana, yang kinikita kenal dengan sebutan Kota Singkawang. 

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang dan Hubungannya Dengan Raja Kuning Baru

Dimulai Dari Raja Kuning (Huang Di)

Berdasarkan sejarah, kebudayaan Tiongkok mulai berkembang dalam wilayah dataran lembah sungai kuning (Huang Ho) di daerah yg sekarang sebagai provinsi Hebei negara China dalam masa Kaisar Kuning (Hanzi: 黃帝; hanyu pinyin: Huangdi; jua dibaca Huang-ti atau Hwang-ti), lebih kurang tahun 2597 SM.

Peradaban Tiongkok berkembang pesat dan mulai sebagai peradaban besardi dunia pada masa kaisar Qin Shi Huang (Hanzi: 秦始皇), dilahirkan dengan nama Ying Zheng (贏政), juga dipanggil Shi Huang Di yg merupakan merupakan Kaisar Pertama.

Dia merupakan raja menurut Negara Qin dari 247 SM sampai 221 SM. Qin Shi Huang mempersatukan Tiongkok selesainya menaklukkan 6 negara lainnya, & kemudian mendirikan Dinasti Qin dan mengangkat diri sebagai kaisar menurut Tiongkok manunggal berdasarkan 221 SM sampai 210 SM. Gelar Kaisar (Huang Di) lalu dilanjutkan sang penguasa-penguasa Tiongkok selama dua milenium berikutnya.

Kedatangan Orang-Orang Han Ke Sambas

Pada Abad ke-18, antara tahun 1720-1750, Sultan Sambas Umar Akamuddin buat  pertama kalinya mendatangkan orang-orang Tionghoa menurut Tiongkok, tujuannya buat membuka tambang emas di daerah Kesultanan yg sekarang sudah sebagai tiga wilayah, yakni  kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Sambas.

Sebagian besarorang-orang Tionghoa yg datang ke Sambas dari dari Bangsa Han Tiongkok Selatan (Guangdong, Fujian, Heinan, Jiangxi dan lain-lain).

Menurut catatan sejarah, Kedatangan mereka bertepatan disaat Dinasti Qing (Manchu) menguasai kekaisaran China hingga meruntuhkan dinasti Ming (Han).

Terjadi kekacauan yg besardisana, menciptakan Bangsa Han mulai Eksodus keberbagai wilayah di daratan China Selatan (Guangdong, Fujian, Heinan dan Jiangxi), termasuk sampai kewilayah Kalimantan Barat.

Konon Sampai dengan akhir abad ke 18, diperkirakan jumlah orang-orang Tionghoa (Han) yg berada di wilayah kesultanan Sambas (Singkawang, Bengkayang, Sambas), telah mencapai lebih berdasarkan 20.000 jiwa.

Orang-orang Tionghoa itu merupakan orang Hakka keturunan berdasarkan bangsa Han, lalu mereka membentuk kongsi-kongsi, dimana, bentuk tatanan kongsi tadi sudah menyerupai bentuk negara Republik. Salah satunya merupakan kongsi ‘Thai Kong’ yang berpusat di monterado.

Chandra meyakini, bahwa dulunya wilayah Monterado disebut Singkawang sang orang-orang Tionghoa disana. “Sepertinya memang penyebutan Singkawang asal dari istilah “Raja Kuning Baru” atau ‘Huang Di’ yg bermakna Kaisar Kuning. Dimana, wilayah yg diklaim Singkawang ini menjadi nama ibukota Republik (Kongsi) Thai Kong pada Monterado, yang dipercaya menjadi wilayah baru kekaisaran Huang Di.” Paparnya.

Setelah runtuhnya Huang Di (Bangsa Han) dampak serbuan bangsa Manchu, maka keturunan bangsa Han yang pengusiranhingga ke daerah Kesultanan Sambas mulai menciptakan negara baru pada Monterado & sekitarnya.

Menurut catatan sejarah pada tahun 1795-1796, mereka (Kongsi Thai Kong) akhirnya dipercaya sudah melakukan pendurhakaan terhadap Kesultanan Sambas, karena nir mau mengikuti peraturan kesultanan yg telah ditetapkan, sebagai akibatnya meletuslah perang di Monterado.

Dibantu oleh Kongsi Sam Tio Kiu (Pemangkat), pasukan Kesultanan Sambas menyerang Thai Kong, hingga peperangan pun meluas sampai ke dataran lembah Singkawang, Sei Raya, Cap Kala dan sekitarnya.

Pasukan perang Kesultanan Sambas dipimpin sang pangeran Anom, sedangkan panglimanya adalah Tengku Sambo. Pada perang itu, akhirnya Tengku Sambo wafat, dan konon kabarnya, sewaktu Tengku Sambo wafat, kepalanya dipenggal sang musuh & disimpan dalam kelenteng di Monterado.

Perang itulah yang kita kenal menggunakan sebutan perang Sambo, dan berakhir sesudah kongsi Thai Kong menyatakan menyerah dan takluk kepada kesultanan Sambas, serta bersedia buat menyerahkan upeti pada kesultanan Sambas.

Baca pula: Memperingati Sumpah Pemuda, KNPI Singkawang Garap Petani Milenial

Pada Tahun 1818, Belanda mulai memasuki Sambas dengan menciptakan konvensi bahwa Kesultanan Sambas merupakan bagian berdasarkan koloni pemerintahan Hindia Belanda.

Kemudian di Tahun 1823, Belanda berhasil menguasai wilayah Lara, Sin Ta Kiu (Sam Tiu Kiu) Sambas, sehingga kongsi Tai Kong kembali mengadakan pemberontakan terhadap Belanda dan Koloninya Kesultanan Sambas, ini dipicu lantaran hasil perundingandirasa sangat merugikan pihaknya.

Dengan bantuan kongsi Sam Tiu Kiu dan orang-orang China di Sambas, akhirnya lepas 28 Februari 1823 kongsi Thai Kong bisa dipukul mundur sang Belanda sampai ke Monterado.

Setelah gagal dengan pemberontakan ke 2, para penduduk China yang memberontak menyatakan menyerah dalam 5 Maret 1823, lalu pada 11 Mei 1823 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aneka macam peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban yg wajibditaati dan dilaksanakan oleh kongsi-kongsi pertambangan emas. (Bersambung)

M. Chandra (Pegiat Sosial Budaya Kalimantan Barat)

Sumber Foto: Wikipedia

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar