Daerah Khusus Ibukota Jakarta - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Daerah Khusus Ibukota JakartaSunda KelapaJayakartaBataviaJakarta RayaDKI Jakarta

Dari atas, searah jarum jam: Jakarta malam hari, Museum Nasional Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno, Monas, Stasiun Jakarta Kota, Istana Merdeka dan Museum Fatahillah.

LambangJulukan: The Big DurianJ-Town[1]Motto: 

Jaya raya(Sanskerta) Jaya dan besar (agung)

PetaNegara IndonesiaHari jadi22 Juni 1527; 494 tahun laluDasar hukum pendirianUU Nomor 29 Tahun 2007Ibu kotaJakarta Pusat[a]Jumlah satuan pemerintahan

DaftarKabupaten: 1Kota: 5Kecamatan: 44Kelurahan: 267 • GubernurAnies Baswedan • Wakil GubernurAhmad Riza Patria • Sekretaris DaerahMarullah Matali • Ketua DPRDPrasetyo Edi Marsudi • Total7.659,02 km2 (2,957,16 sq mi) • Luas daratan664,01 km2 (256,38 sq mi) • Luas perairan6.997,50 km2 (2,701,75 sq mi) • Total10.562.088 • Kepadatan14.555/km2 (37,700/sq mi) • AgamaIslam (83,68%) Kristen (12,53%)—Protestan (8,60%)—Katolik (3,93%) Buddha (3,59%) Hindu (0,18%) Konghucu (0,02%)[4] • Bahasa

DaftarIndonesia (resmi)Betawi (utama) JawaSunda Tionghoa Batak Minangkabau Madura Melayu Banjar Inggris Aceh Bugis Bali Arab Tamil Ambon Pecok Belanda Portugis • IPM 81,11 (2021) Sangat Tinggi[5]Zona waktuUTC+07:00 (WIB)Kode pos

10xxx-14xxxKode area telepon021Kode ISO 3166ID-JKPelat kendaraanBKode Kemendagri31 APBDRp 84.880.000.000.000,-[6] (2022)PADRp 55.650.000.000.000,-[7]Slogan pariwisata+Jakarta Kota Kolaborasi[8]Lagu daerahKicir-KicirJali-JaliRumah adatRumah KebayaSenjata tradisionalGolokFlora resmiSalak condetFauna resmiElang bondolSitus webjakarta.go.id^ Secara de facto, Jakarta Pusat menjadi pusat bagi banyak gedung pemerintahan. Secara de jure, DKI Jakarta tidak memiliki ibu kota.

Jakarta (pengucapan bahasa Indonesia: [dʒaˈkarta] ( simak)), atau secara resmi bernama Daerah Khusus Ibukota Jakarta (disingkat DKI Jakarta) atau Jakarta Raya adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan beberapa nama di antaranya Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Jakarta juga mempunyai julukan The Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia.[9]

Jakarta memiliki luas sekitar 664,01 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.562.088 jiwa (2020).[3] Wilayah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa.

Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN. Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, yakni Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, serta tiga pelabuhan laut di Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Ancol.[10][11][12]Etimologi

Peta Batavia (sekarang Jakarta) tahun 1888.

Nama Jakarta sudah beberapa kali berganti nama.Sunda Kalapa (397–1527)Jayakarta (1527–1619)Batavia (1619–1942)Jakarta (1942–sekarang)DKI Jakarta (1998–sekarang)

Nama Jakarta sudah digunakan sejak masa pendudukan Jepang tahun 1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905.[13] Nama "Jakarta" merupakan kependekan dari kata Jayakarta (aksara Dewanagari: जयकृत), yaitu nama dari Bahasa Sanskerta yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527 dari Portugis. Nama ini diterjemahkan sebagai "kota kemenangan" atau "kota kejayaan". Namun sejatinya berarti "kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha" karena berasal dari dua kata Sanskerta yaitu Jaya (जय) yang berarti "kemenangan"[14] dan Karta (कृत) yang berarti "dicapai".[15]

Bentuk lain ejaan nama kota ini telah sejak lama digunakan. Sejarawan Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) menyebutkan keberadaan "Xacatara dengan nama lain Caravam (Karawang)". Sebuah dokumen (piagam) dari Banten (k. 1600) yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah wong Jaketra,[16] demikian pula nama Jaketra juga disebutkan dalam surat-surat Sultan Banten[17] dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47)[18] sebagaimana diteliti Hoessein Djajadiningrat. Laporan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebut Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta).SejarahLihat pula: Sunda Kelapa, Kerajaan Sunda dan Sejarah BataviaSunda Kelapa (397–1527)

Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kalapa (Aksara Sunda: ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮊᮜᮕ), berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti "ibu kota") dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibu kota Tarumanagara yang disebut Sundapura (bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Sunda").[19]

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.Jayakarta (1527–1619)

Bangsa Portugis merupakan Bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan pendudukan Pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta (aksara Dewanagari: जयकृत) yang berarti "kota kemenangan", Jayakarta berasal dari dua kata Sanskerta yaitu Jaya (जय) yang berarti "kemenangan"[14] dan Karta (कृत) yang berarti "dicapai".[15] Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.Batavia (1619–1942)

Berkas suara ini dibuat dari revisi tanggal 2012-05-30, dan tidak termasuk suntingan terbaru ke artikel. (Bantuan suara)

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar